Terseret Kasus Ratna Sarumpaet: Mustahil Mengadili dan Memenjarakan Prabowo-Amien Rais

Posted on


Gara-gara Ratna Sarumpaet bohong, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, calon presiden Prabowo Subianto, calon wakil presiden Sandiaga Uno, Wakil Ketua DPR Fadli Zon, dan lainnya dipolisikan. Bisakah empat tokoh ini terjerat kasus ini hingga berakhir di jeruji besi?

“Kalau secara politik memenjarakan Amien Rais dan Prabowo Subianto itu mustahil. Bahkan polisi terkesan hati-hati ketika menangani kasus Ratna Sarumpaet. Di tahun politik kelihatannya polisi berusaha benar-benar memahami rasa keadilan masyarakat,” kata pengamat politik S Indro Tjahyono kepada Harian Terbit, Rabu (10/10/2018).

Menurut Indro, dua kandidat capres dan cawapres merupakan indikator demokrasi sudah berjalan. “Kalau Prabowo Subianto diadili dan dipenjarakan, apa pun kasusnya, tentu akan mencederai iklim demokrasi yang sudah tercipta. Apalagi, secara hukum, mereka yang berempati terhadap kasus Ratna Sarumpaet, adalah korban penipuan,” papar mantan Ketua Dewan Mahasiswa ITB ini.

Indro, aktivis mahasiswa 77/78 ini mengemukakan, secara politik juga tidak perlu dilakukan pemenjaraan. Malah kalau dilakukan, akan menurunkan elektabilitas Jokowi. “Tidak usah dipenjara saja, kasus RS  telah menyebabkan penuruan elektabilitas Prabowo-sandi,” ujar pendiri Skhepi ini.

Seperti diketahui, saat ini polisi tengah mendalami perkara dugaan hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet. Gara-gara kebohongan Ratna ada delapan orang yang dilaporkan adalah Ratna Sarumpaet, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, Rachel Maryam, Fadli Zon, Ferdinand Hutahaean, dan Habiburokhman.

Target Operasi

Sementara itu, Koordinator Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi (Galak) Muslim Arbi mengemukakan pemeriksaan AR (Amien Rais, red) adalah sebuah skenario untuk berupaya melumpuh gerak laju AR dalam membela kepentingan bangsa dan negara.

“Jangan lupa mengutak atik Pak AR dengan kasus yang tidak jelas merupakan sebuah kesalahan besar,” kata Arbi seperti yang dilansir Koran Kota.

Lebih lanjut Muslim Arbi melihat badai politik sangat mungkin menghempas Istana, karena umat sangat marah dengan ketelodoran yang mereka lakukan. Jokowi dan tim jangan melupakan bahwa jutaan orang akan datang ke Jakarta dengan tulus dan suka rela mendukung AR.

Politisasi

Sementara itu pernyataan cawapres Ma’ruf Amin untuk tidak menggoreng kasus hoaks Ratna Sarumpaet, bertolak belakang dengan pendukungnya. Bahkan, pendukung Jokowi-Maruf sudah membawa perkara hukum Ratna ke ranah politik.

“Saya melihat ada dugaan beberapa oknum pendukung Jokowi-Ma’ruf yang menggoreng kasus hoax ratna Sarumpaet masuk ke arah politik dengan melaporkan pasangan Prabowo-Sandi dan beberapa tokoh BPN ke polisi,” ujar Juru Bicara Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ali Lubis, di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Ali mengatakan, ada pendukung yang melaporkan ke Bawaslu RI dan meminta mendiskualifikasi pasangan capres dan cawapres Prabowo-Sandi dari ajang Pilpres ini. Padahal, ia menyatakan, Prabowo adalah korban hoaks dari apa yang diceritakan oleh Ratna terkait penganiayaan terhadapnya.

“Kan enggak nyambung. Sementara yang kita ketahui bersama Pak Prabowo-Sandi dan tokoh tim BPN menjadi korban hoaks dari Ibu Ratna Sarumpaet,” kata dia.

Menurutnya, jika memang Jokowi-Ma’ruf berkomitmen untuk tidak menggoreng kasus hoaks seharusnya ada peringatan kepada para pendukungnya. Termasuk, mencabut seluruh laporan terkait kasus hoaks Ratna.

“Saya meminta kepada Pak Kiai Ma’ruf Amin untuk mengingatkan pendukungnya untuk mencabut seluruh laporannya terkait kasus ini kepada Prabowo-sandi dan para tokoh BPN,” katanya.

Sebelumnya, Ma’ruf membantah tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf telah mempolitisasi kasus hoaks aktivis Ratna Sarumpaet. Menurut dia, koalisinya hanya menyerahkan kasus tersebut kepada pihak yang berwenang agar diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Enggak pernah kami ngomong politisasi. Kami enggak pernah komen kok.   Itu urusan pihak yang berwenang, bukan urusannya kita. Pengawasannya kan ada, masak kita. Kita ini kan peserta,” ujar dia di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2018). [htc]



Source link

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *